22/08/2008
06.17
“SELAMAT MALAM SAHABAT…….” teriak Andra. Inilah kebiasaan Fiandra yang sering dipanggil Andra oleh teman-temannya. Ia selalu meluangkan waktu untuk pergi ke atap rumahnya untuk mengobrol dengan sahabat mayanya.
“Kyla, Shira, dan Anggi, tau gak hari ini aku senanggggggg…..banget. Kamu tahu kenapa? Hehe..hari ini aku di wisuda. Akhirnya, setelah sekian lama aku berjuang untuk keluar dari UAN dan UAS, aku LULUS juga!!!” kata Andra.
“Wah, selamat ya Andra. Kami turut senang. Fiuh, apa jadinya kalau Kamu tidak lulus, bisa-bisa kami jadi sasaran kegilaanmu. Lalu tadi bagaimana acaranya? Seru?” tanya Kyla.
“Sumpah, awalnya emang membosankan, dengerin pidato dari kepsek lha dari ketua komite lha. Bener-bener bosen banget tapi semua itu akan jadi peristiwa terakhir aku dengerin kepsek pidato. Hiks… O iya, tadi Sahabat aku yang udah pindah sekolah itu datang lho. Senangnya!!” ucap Andra.
“Siapa?” tanya Shira.
“Lha, emang aku gak pernah ngasih tau Kamu ya? Siapa lagi kalau bukan Yura. Kan sahabat aku cuma Yura, Angga dan Desty. Lagipula Angga dan Desty kan masih di sekolah sini.” Kata Andra.
“Belum tau Jeng!! Terakhir Kamu cerita pasti tentang ujian mulu.” Jawab Anggi.
“O gitu ya?! Padahal aku kira udah pernah kasih tau.” Kata Andra dengan tampang polos.
Andra memang senang menyendiri. Sewaktu SMP, Andra jarang bergaul sampai-sampai ia berfikir ia tak perlu teman nyata. Dan ia pun menciptakan sendiri dunia imajinasinya. Hingga seperti sekarang, ia punya Kyla, Shira dan Anggi. Namun seiring waktu, kedewasaan Andra tak dapat terelakan. Ia pun sebagai makhluk sosial membutuhkan orang lain. Dan di SMA lah ia mendapat sahabat nyata yaitu Desty, Angga dan Yura.
“Terus gimana? Ada acara tangis-tangisan?” tanya Anggi lagi.
“Gak ada yang nangis. Tapi tadi aku sempat nangis karena lagu yang dibawakan tim paduan suara. Pasalnya ketika gitaris dan keyboard yang mengiringi lagu gak keluar sound-nya, tim paduan suara agak hambar dan gak ada kesan nyanyinya terus ada satu orang yang mengawali untuk mendukung lagu dengan tepukan tangan. Akhinya kita semua para wisudawan untuk memberi tepukan juga. Pokoknya agak terharu karena mengingat kekompakan yang dilakukan terakhir kali sama angkatan tahun ini.” curhat Andra dengan panjang lebar.
Tidak lama kemudian mama memanggil dari dalam rumah.
“Andra!! Udah malam, turun Kamu, nanti masuk angin lagi.” perintah mama.
“Iya, sebentar Ma….” sahut Andra.
“Kyla, Shira dan Anggi, udahan dulu ya ceritanya. Besok aku cerita lagi. Dah…” ucap Andra.
“Dah…Andra. Sweet dream ya….” kata Kyla,Shira dan Anggi berbarengan.
Keesokan harinya….
Andra sudah bangun pagi sekali. Karena ia biasa bangun pagi dan berangkat sekolah.
“Pagi Ma, Pa.” kata Andra kepada mama dan papa yang telah berada di ruang makan.
“Lho..tumben bangun cepat. Kan udah gak sekolah?” tanya mama yang sedang menyuapi papa makan. Eh iya, begini-begini papa dan mama ku masih romantis lho. Mama menyuapi papa setiap sarapan karena papa yang gak biasa makan pagi. Kadang entah karena belum lapar atau karena hampir telat. Pokoknya papa itu lebih susah diatur daripada aku dan adikku. Itu kata mama lho.
“Aku pengen Bulutangkis dulu sama Iqbal di lapangan. Paling sampai jam 8. Habis itu aku gak tau nih Ma. Aku bingung ngapain aja ya hari ini.” jawab Andra sambil mencomot sepotong roti yang berisi selai coklat. Aku gak suka makanan manis-manis tapi aku suka coklat. Pengecualiannya Cuma coklat lho! Soalnya menurutku benar apa yang pernah ku baca bahwa coklat itu kandungan energinya banyak dan ketika tubuh sedang lemas, coklat sangat efektif banget untuk menambah energi dengan cepat.
“Kalau bingung bantuin mama aja jaga salon yang di Lembang.” kata mama.
“Emangnya mbak Tika kemana Ma? Dia kan yang jaga salon. Lagipula aku gak bisa melayani tamu, nanti kalau ada yang mau potong rambut atau creambath gimana?” tanya Andra.
“Mbak Tika ada kok tapi setidaknya Kamu mengamati bagaimana melayani orang yang datang ke salon. Lebih bagus lagi kalau Kamu mau belajar tentang salon. Mama akan senang karena ada penerusnya kelak.” jawab mama.
Aduh, kenapa ngomongin itu lagi sih?! Udah dibilang aku gak mau jadi penata rambut atau rias.
“Trus kenapa nggak Kak Eri aja ma? Aku ga suka dan aku gak bisa ma…” kataku lagi.
“Kak Eri lagi sibuk di kantornya. Mana mungkin mama nyuruh Kak Eri jaga salon.”
“Bukan itu maksudku Ma. Kenapa bukan Kak Eri aja yang ngelanjutin usaha mama?”
“Kak Eri gak mau katanya dia mau jadi wanita karir aja.”
“Nah, itu dia. Aku juga nggak mau karena selain aku gak punya bakat, aku juga pengennya kerja yang berhubungan dengan hal-hal yang aku suka.”
“Haaahh…ya sudahlah. Mama gak akan memaksakan kehendak.” Jawab mama dengan nada sedikit sedih
“Ya udah deh begini aja Ma. Selagi aku senggang aku akan membantu mama sebisa aku aja ya. Aku ke salon nemenin mbak Tika nanti, tapi aku gak mau nerusin usaha mama. Kasih aja ke Dara tuh ma.” kata Andra.
Mama pun maklum sama anaknya yang satu ini. Andra bisa dibilang cuek dengan penampilannya. Dia bukan seperti anak remaja biasanya yang telah mengenal make up dari SMA atau bahkan SMP. Namun ia juga tidak seperti anak-anak yang terlalu kolot untuk mengenal itu semua. Ia hanya suka dengan penampilan yang alami dan tidak dipoles untuk menjadi cantik. Toh,apa gunanya jika penampilan cantik tapi hatinya tidak.
“Ma, Dra, papa berangkat dulu ya. Udah hampir telat. Bangunin si Dara tuh! Jadi anak gadis kok bangun siang.” ucap papa.
“Iya Pa, nanti dibangunin. Hati-hati di jalan ya Pa?” ucap mama.
“Dah papa…..” teriak Andra seselesai ia memakai sepatu. Papa berangkat diantar mama sampai pintu pagar.
“Andra, sebelum Kamu berangkat, bangunin Dara ya? Bilang temanin mama belanja ke pasar.” kata mama ketika papa sudah pergi.
“Heeh.” kata Andra singkat Andra pun ke kamar Dara untuk membangunkannya. Kamar Dara di depan kamar Andra. Pintunya kami berhadapan.
Cklik….aku membuka kamar Dara. Kamar Dara, aku dan Kak Eri ada di lantai 2. Sedangkan di lantai 1 ada 3 kamar yaitu kamar mama papa yang berada di ruang tengah dan disampingnya adalah ruang kerja papa. Tidak jauh dari kamar mama papa ada 1 kamar tidur yang kosong, kamar tersebut untuk kamar tamu jika salah saudara kami ada yang bertamu dan menginap. Dan 1 lagi kamar mbak Siti yang berada di dekat dapur. Mbak Siti adalah orang yang membantu kami untuk bersih-bersih rumah, singkat kata ia adalah seorang PRT di rumah ini, tapi aku gak biasa memanggil mbak dengan sebutan pembantu,pembokat,babu atau semacamnya karena ia juga seorang manusia yang punya rasa dan karsa. Alah….bahasanya…hehe…
Kembali ke kamar Dara. Dinding kamar Dara yang berwarna pink ungu membuat orang yang masuk ke kamarnya pun pasti tahu kepribadian seorang Dara itu seperti apa. Ia cantik, fashionable, langsing, rambut panjang kemilau, kulit putih pucat pokoknya bertolak belakang sekali denganku. Yah…walaupun bentuk tubuhku tidak termasuk kategori kurus ataupun gemuk. Aku berisi. Tahu kan maksudnya? Aku cuek dengan penampilan asal selama bisa membuatku nyaman, rambut ku juga pendek dengan bentuk segi layer yang cocok sekali dengan potongan mukaku yang agak bulat. Dan satu lagi yang membuatku aneh. Kenapa warna kulitku beda sendiri ya?? Kulit mama, papa, Dara dan Kak Eri berwarna putih sedangkan aku sawo matang. Semuanya juga bermata sipit karena aku tahu dari mama bahwa kami keturunan cina tapi kok mataku belo. Orang lain pun sekali melihat akan tahu aku bukan bagian dari keluarga ini tapi aku kan bagian dari keluarga ini. Aneh….apa aku bukan anak kandung mama dan papa ya?? Hiii…serem membayangkannya jika aku bukan salah satu anak kandungnya. Ahhh…sudahlah jangan dipikirkan.
“Ra bangun, Ra….” kata Andra.
“Hmm….Sit,PR-nya ada di kolong meja gw ambil aja. Lo mau nitip makanan apa?” gumam Dara yang masih tidur.
“Woi, bangun! Ngigau lagi lo..” kata Andra lagi sambil melepas selimut Dara.
“Waduh, Sita sini deh sini,kak Bino nyamperin kelas kita…Kyaaaa..Ganteng banget…..” ucap Dara lagi yang masih terpejam dengan mulut tersenyum senang dan menarik selimutnya kembali. Nah ini, walaupun sesempurna apa pun manusia pasti ada kekurangannya juga. Dara itu kebo banget. Tidur kok suka banget nungging mana sering banget ngelindur. Pernah lho, ia ketiduran di ruang tengah dan aku membangunkannya untuk pindah ke kamar tapi yang ada ia langsung loncat dari posisi tidurnya yang nungging terus ke kamar mandi untuk ngambil handuk. Aku yang ngebangunin kan jadi kaget setengah mati, gimana enggak dari posisi masih tidur tiba-tiba bangun. Gila rasanya kayak abis ngeliat orang mati hidup lagi. Pas aku tanya mau ngapain, ia jawabnya “Ya mandilah. Gw telat kan makanya lo bangunin gw.” Nah lho, ini dia bukannya ngeliat jam dulu. “Masih malam tahu!!! Udah jam 11. makanya liat jam dulu, terus jangan kebo banget apa.”
“Ganteng apaan!! Gw And….Hmm…Hai Dara lagi apa nih? Ke kantin yuk? Kamu udah laper kan?” kata Andra yang mempunyai niat jahil untuk berpura-pura menjadi Bino di alam mimpi Dara.
“Oh..em..ji..Bino ngajak gw Sit…Sorry ya Sit, gw pergi dulu.”
“Yuk, Bin..”
“Yuk. Kamu mau makan apa?”
“Aku bakso aja tapi jangan pakai sambel.”
“Bakso urat, telur atau daging?”
“Bakso daging.”
“Bentar ya…”
Gak lama kemudian “Nih pesenannya. Bakso daging cicak gak pake sambel.”
“Hah?! Daging cicak?? Ini apa Bin?” Dara menunjuk isi mangkok bakso yang panjang lembek dan bergerak-gerak
“Buntut cicak. Kan kamu suka bakso andalan dari mang Asep. Makan ya say…” Khekekekek aku yang tak tahan melanjutkan percakapan yang ngalor ngidul ini pun menahan tawa.
“Kyaaaaaaaaaaaaaaaaaa……….” Dara pun akhirnya bangun
Bwahahaha…hahaha..haha…Yes! Yes! Akhirnya ni anak bangun juga.
“Hahaha..haha…akhirnya lo bangun. Gila sampai jadi percakapan tuh! Eh, siapa Bino? Gebetan baru ya?” kataku dengan tawa yang mulai berhenti dan air mata yang hampir menetes saking gelinya.
“Hah?! Lo? Dasar lo! Orang lagi ngimpi enak jangan diganggu kek! Apa-apaan bakso daging cicak. Hiiii..Nyeremin TAU!!” sahut Dara dengan tampang kesal.
“Abisnya bangunin lo susah banget sih! Gw Cuma disuruh mama nyampein ke lo kalau lo itu disuruh nemenin mama ke pasar.”
“Ughhh…ngantuk banget nih! Lo aja deh!” ucap Dara yang masih kesal dan ingin tidur lagi.
“Yee ini anak! Gw mau Bultang dulu nanti gw disuruh ke salon tau. Jadi lo yang ke pasar. Bangun!!” perintah Andra dengan kesal karena susah banget banguninnya.Tapi Dara melanjutkan kembali tidurnya.
“BANGUN…BANGUN. BANGUN…BANGUN.” teriak Andra dengan menirukan irama sahur.
“Iya..iya…gw bangun! Lo berisik banget sih! Sana pergi dari kamar gw!” ucap Dara dengan kesal karena tidurnya terganggu dan ia terpaksa bangun untuk ‘si burung’ itu tidak bernyanyi lagi.
“Nah, gitu dong… masa anak gadis kayak kebo. Malu tau.” Ledek Andra
“Berisik lo ah! Sana keluar! Gw mau mandi.” bentak Dara dengan setengah nyawanya.
“Oke!” kata Andra sembari keluar dari kamar Dara.
Andra mendatangi mama yang sedang ada di kamar.
“Ma, si Dara udah aku bangunin tuh! Aku mau berangkat dulu ya ma.” kata Andra.
“Iya. Hati-hati ya nak di jalan.” ucap mama.
Suasana fajar yang menyemburkan sinar keungu-unguan dan sedikit bias cahaya matahari muncul dari peraduannya. Ditambah dengan embun pagi yang menetes dari setiap dedaunan, cahaya matahari yang mengenainya membuat embun tersebut tampak indah seperti permata. Sungguh indah. Aku berlari-lari kecil menuju lapangan yang tak jauh dari rumah. Rumahku di blok 7 sedangkan rumah Iqbal di blok 8 setiap blok mempunyai lapangan masing-masing. Berhubung rumah Iqbal lebih dekat dengan lapangan blok 7 maka aku dan Iqbal janjian di lapangan blok 7. Oh iya, Iqbal adalah teman ku dari kecil. Aku kenal dia waktu kami sama-sama duduk di bangku TK. Dan tak disangka-sangka bukan hanya TK saja, entah kenapa kami satu SD, SMP, dan SMA. Padahal kami dan orangtua kami gak janjian sama sekali lho. Dari situlah kami jadi lebih akrab. Apalagi hobi kami sama yaitu sama-sama suka bermain bulutangkis walaupun dia lebih jago sih.
“Hei, Bal. Udah lama ya?” sapa Andra
“Belum. Ni aja gw baru nyampe.”
“Udah pemanasan?” tanyaku
“Udah. Tadi gw kesini lari. Lo? Kayaknya udah ya.” Jawab Iqbal dengan memerhatikan tubuhku yang sedikit basah dengan keringat.
“Yuk ah mulai. Depan atau belakang?” kata Andra ketika mau menjatuhkan cock di tengah-tengah net.
“Belakang.” Jawab Iqbal. Cock pun jatuh dengan pantat cock ke arah Andra, yang berarti Andra dulu yang me-serve.
“Gw dulu.” Kata Andra.
Dan mereka pun asyik dalam permainan.
“Hah…haah….haah…2-1 lo menang. Jam berapa sekarang Bal?” tanya Andra dengan nafas yang masih kelihatan capek.
“Jam 8.45.” jawab Iqbal. Mereka berdua duduk dibawah pepohonan yang besar dan teduh. Andra menyeka butir-butir peluhnya yang terjun dengan bebas di sekujur tubuhnya dan Iqbal menegak air minum yang tadi dibawanya.
“Bal lo masuk mana?” tanyaku masih yang mulai menengadah ke langit. Hembusan angin menerpa tubuh yang basah ini membuat tubuh ini segar sekali dan nyaman. Aku suka langit. Entah kenapa setiap ada masalah ataupun kebahagiaan langit adalah tempatku curhat walaupun melalui mata dan tanpa kata. Bukan berati aku menyembah langit lho ya. Aku masih punya kepercayaan hanya saja untuk langit adalah tempatku curhat karena di langit lah aku merasa Tuhan melihatku. Bukan hanya Tuhan tapi Kyla, Shira dan Anggi juga.
“Gw gak tahu nih dapet dimana. Tapi untuk cadangannya gw kayaknya di Universitas Satellita deh. Lo sendiri?”
“Gw juga di sana. Tapi kalau dapet negeri sih, pasti gak nolak. Lo ambil jurusan apa? Kayaknya gw akuntansi deh. Yah,walaupun gw gak ada basic sama sekali.” Sebetulnya jujur aku gak tahu mau jadi apa kelak makadari itu aku mengikuti bimbingan konsultasi dan tes IQ dengan para mahasisawa jurusan Psikolog dan alumni dari Universitas Negeri Indonesia yang diadakan 2minggu sebelum UAN. Hasilnya sih menunjukkan aku mempunyai potensi di 3 jurusan yaitu Ekonomi, Akuntansi, Sastra. Nah ini yang buat aku bingung. Jurusan aku waktu SMA kan IPA kok bisa-bisanya potensi ku bukan di IPA. Aku berfikir untuk mengambil sastra aja tapi ketika dipikir-pikir lagi aku ngambil sastra karena suka menulis, dan aku tahu dari SMP pelajaran yang aku benci yaitu ekonomi dan geografi makanya aku gak ngambil IPS tapi aku ingin tahu tentang akuntansi. Aku juga melihat peluang lowongan pekerjaan di koran maupun di internet banyak yang membutuhkan akuntan makadari itu keputusanku berubah, jadi ngambil akuntansi. Pikirku walaupun aku belajar akuntansi tapi tidak menutup kemungkinanku untuk tetap menulis kan.
“Gw Teknik Industri. Eh, gw balik duluan ya, ada janji nih! Bye…Ndra”
“Bye……..”
Hupp…Andra bangun dari duduknya dan membersihkan pantatnya dari debu kerikil yang tadi ia duduki. Kalau ia tak ingat sudah buat janji dengan mama untuk nemenin Mbak Tika di salon, pastinya Andra sudah melanglangbuana di tempat Kyla, Shira dan Anggi. “Abis anginnya sejuk banget dan matahari masih malu-malu kucing. Wah…Langitnya indah. Jadi semangat!!” pikir Andra. Andra berlari-lari kecil menuju rumahnya tapi sebelum Andra sampai rumahnya matanya tertuju pada mobil bak yang mengangkut barang-barang perabotan rumah. “Sepertinya ada yang baru pindah ya?” pikir batin Andra. Ia semakin mendekati rumah tersebut, lalu ia melihat seorang pria dan wanita paruh baya yang sedang menurunkan barang-barang tersebut. Lalu ada seorang anak kecil cowok yang kelihatannya masih duduk di bangku SD. Anak kecil cowok itu juga membantu menurunkan barang-barang tapi yang sifatnya ringan seperti bantal. “Hihi..hihi..lucu anaknya padahal cowok tapi cantik kayak cewek” gumamku dan kembali melihat ke depan tapi…
CKIIIIITTTTTT!!! Suara rem dari motor Tiger yang sangat memekakan telinga dan mengacu jantung untuk berdetak lebih cepat yang membuatku refleks berteriak.
“Waaaaaaaaaa…..” teriakku dan terjatuh. Dan Andra pun terjatuh karena tadi ia berlari tanpa melihat ke depan tahu-tahu waktu melihat ke depan lagi ada motor. Alhasil Andra pun kaget banget dan menghindar ke samping kiri dan terjatuh. Motor yang dinaiki si cowok itu pun oleng lalu stabil kembali. Si cowok itu pun menghentikan motornya.
“Aduh….sakit…. Hei, yang benar dong naik motornya!! Baru bisa ya?! Dasar!” maki Andra.
“Eh, lo tuh yang jalannya meleng! Lagi jalan ngeliat ke belakang terus cengar-cengir lagi.” Kata si cowok itu gak mau kalah.
“Nah lo sendiri ngapain ngebut-ngebut di perkomplekan kayak gini, pagi-pagi pula.” Kata Andra lagi. Dengan perasaan kesal Andra bangun dari posisi jatuhnya lalu membersihkan pakaian dan celananya yang kotor. Ketika Andra hendak memarahinya lagi, cowok itu dipanggil oleh salah seorang dari rumah yang baru ada penghuni barunya itu.
“Kak Reiji bantuin dong! Lagi sibuk malah datang telat!” kata seorang Akeco (anak kecil cowok maksudnya) yang baru keluar dari dalam rumah.
“Maaf, maaf, gw telat. Barusan ada burung rese’ banget!” Kata cowok itu sambil melirik ke arah Andra.
“Ih, ini orang nyebelin banget sih! Bodoh ah, ngapain pagi-pagi udah ngabisin energi mening gue simpan aja untuk ntar.” Pikir Andra sambil berlalu dari tempat itu.
Sesampainnya di rumah aku mengambil selang yang terletak dekat pagar dan kemudian menyiram bunga yang ada di halaman. Walaupun gak luas tapi menurut keluarga kami rumah itu harus mempunyai penghijauan sesempit apa pun rumah tersebut. Karena mereka juga butuh hidup dan manusia pun butuh mereka untuk penghijauan dan untuk mencegah rumah terlalu panas. Hitung-hitung simbiosis mutualisme gitu.
Selesai aku menyiram bunga, aku pun ke kamar untuk mandi dan bersiap-siap untuk ke salon mama. “Rencanaku hari ini nemanin mbak Tika di salon habis itu kemana ya?” pikirku sambil memakai baju. Aku mengambil baju berwarna biru muda dengan gambar cewek yang sedang main roller blade dengan rambut pendek sebahu dan lengkap dengan helm, pelindung sikut dan pelindung lutut. Baju ini hadiah ulang tahun dari Desty, sahabatku di SMA. Dia bilang tadinya ia ingin menghadiahi komik atau novel kesukaanku tapi berhubung uangnya gak cukup jadinya beli baju aja. Baju ini lumayan manis di tubuhku yang tidak terlalu ketat ataupun gombrong. Dan bawahannya aku memakai celana jeans abu-abu. “Ok deh. aku siap berangkat. Eh tunggu dulu…” kataku sambil mencari-cari beberapa novel yang belum aku baca dan memasukkannya ke dalam tas kecil. Kemudian turun ke bawah. Dan menuju ruang makan untuk sarapan dan membawa bekel kalau-kalau aku lapar. Kamu tahu? Aku itu orangnya irit kalau kata Dara sih pelit tapi menurutku irit soalnya daripada jajan-jajan yang gak ngenyangin meningan makan di rumah atau bawa bekel. Aku dan teman-teman di kelas pun kadang janjian membawa makanan dan saling icip-icipan. Jadi bisa dibilang uang jajan untuk tiap harinya cuma terpakai untuk naik angkutan umum, sisanya aku tabung. Selesai makan aku menaruh piring ke dapur, mencucinya dan membereskan kembali meja makan.
“Mbak Siti…aku berangkat dulu ya.”
“Iya. Hati-hati ya ka…….”
“Iya. Mbak juga. O iya Mbak, nanti kalau mama udah pulang bilangin mama untuk ke salon karena mungkin aku mau pergi ke rumah teman. Jadi gantian pas jam 1 aja. Ok! Dah, mbak…” pamitku. Jangan heran ya kalau dia memanggilku kakak karena emang umurnya Mbak Siti dan aku adalah lebih tua aku. Dibanding Dara yang kelas 3 SMP aja masih lebih tua Dara. Mbak Siti dibawah Dara satu tahun. Walaupun Mbak Siti dari kampung tapi pikirannya modern. Gimana nggak, masa dia aja sekarang udah mengenal make up malah udah nyobain inilah itulah sampai-sampai aku pernah ngintip ke kamar mbak Siti, ia lagi maskeran. Waduh, capek deh…… Keluargaku memang sudah terbiasa untuk memanggil semua PRT dengan sebutan mbak karena itu terlihat lebih menghormati.
Kling…Kling…Kling…
“Maaf kami belum buka.” Kata mbak Tika. Mbak Tika itu salah satu pegawai yang kerja di salon mama.
“Pagi, Mbak…..” Sahut ku. Salon mama ini dulu ada 2 pegawai. Satu lagi namanya Mbak Nadia tapi sekarang ia sedang hamil makanya tidak bekerja dulu. Jadinya sekarang hanya Mbak Tika aja dan mama. Tapi kadang aku menggantikan mama yang menjaga sekaligus mengawasi kerjanya mbak Tika. Bukannya mencurigai tapi alangkah baiknya kalau kita lebih waspada. Karena dulu mama pernah dibohongi oleh salah satu pegawai mama dan mama paling gak suka orang gak jujur. Curiga dan waspada itu beda lho.
“Eh, Andra toh! Tumben kemari. Emang mama kemana?” Tanya mbak Tika yang sedang menyapu.
“Mama pergi ke pasar sama Dara. Biasa lah Mbak, mama pengen antara aku sama Dara ada yang melanjutkan usaha mama ini. Tapi gimana ya Mbak, aku tuh orangnya susah untuk memoles diri apalagi memoles orang lain yang berharap kita menjadikan dirinya menjadi cantik. Aduh….bingung aku.” kata Andra yang ikut membantu mengelap-lap meja, kursi dan kaca.
“Yah, Mbak ngerti maksud mama tapi Andra jangan dibawa terlalu berat. Coba jalankan aja dulu. Kalau misalnya Kamu tetep nggak bisa, yah, apa boleh buat. Kamu kasih penjelasan ke mama dengan baik-baik tapi kalau Kamu bisa syukur toh, ternyata mama ada penerusnya.” Kata mbak Tika yang sudah selesai menyapu lantai. Kadang aku berfikir aku itu beruntung punya mama yang sabar dan baik banget sama aku yang keras kepala malah kadang suka ngebantah. Kayaknya aku durhaka banget ya, nggak mementingkan perasaan mama padahal mama usaha seperti ini kan karena untuk membantu biaya kehidupan sekeluarga. Yah, walaupun cuma usaha kecil tapi nggak jarang juga usaha kecil bisa jadi besar. Iya nggak? Sudahlah nanti aku coba dulu aja saran dari mbak Tika.
“Ndra, rencana kamu mau kuliah dimana nih? Selamat ya, Cieee…yang udah lulus.” Tanya mbak Tika yang sudah membalikkan papan closed manjadi open. Karena pelanggan yang tak tentu datangnya apalagi salon ini termasuk salon yang ke-3 di daerah sini jadi yah, untuk waktu luang yang seperti ini maksudnya menunggu pelanggan, aku memutuskan membaca novel yang baru ku beli.
“Aku nggak tahu mbak nyangkut dimana. Aku sih udah rencana ikut ujian apa aja yang diadakan. Siapa tahu aku lulus di salah satu yang aku ikutin. Tapi untuk cadangan maksudku swasta aku udah daftar di Universitas Satellita. Tapi doakan aku ya Mbak, semoga dapat Universitas negeri. Masalahnya mahal banget kan kalau di swasta.” Jawab ku tanpa mengalihkan pandangan ku dari novel.
KLING…KLING…KLING…
“Selamat datang.” Sapa mbak Tika pada pelanggan pertamanya di hari ini. Dan selanjutnya sepertinya aku tak tahu apa yang dibicarakan oleh mbak Tika dan kedua tamu tersebut.
Aku larut dalam duniaku. Tapi…
“Fira, tadi loe liat gak anak blok 7 yang baru pindah?” tanya salah satu tamu yang rambutnya sedang di gunting oleh mbak Tika.
“Nggak Ly. Emang kenapa?” sahut teman tamu yang digunting rambutnya. Kayaknya sih namanya Fira dan yang sedang digunting namanya Lily. Aku cuma menebak aja lho.
“Sumpah Fir, cuakeeeeeppppppppppp banget. Kayak Shirota yuu, idola loe. Hehe..berlebihan gw, nggak segitunya sih tapi beneran cuakep banget. Coba kalau gw gak punya Tony, gw pengen gebet tuh anak.” Kata Lily dengan semangatnya.
“Yeee…emang secakep itu apa? Walaupun ada yuu-kun gw tetep pilih yuu-kun. Ly, inget Tony lho!” Jawab Fira dengan sedikit menggoda temannya.
“Maksud kedua pembicara itu cowok yang tadi nabrak gw? Cakep dari mana, dari lubang kunci kamar gw sih iya. Nyebelin gitu, udah nabrak gak minta maaf lagi. Cowok apaan tuh.” Pikir batin Andra. Arghhhh…jadi gak konsen kan.
“Mbak Tika, aku pergi sebentar ya?” kata Andra ke mbak Tika.
“Eh, mau kemana?” Sahut mbak Tika.
“Mau ke warung sebentar beli minuman.”
“Ya udah, hati-hati ya…”
“Yoi.”
KLING…KLING…KLING…
Aku keluar dari salon kemudian menuju warung yang gak jauh dari situ.
“Permisi....” aku memanggil si empunya warung. Karena dari luar warung terlihat sepi.
“O iya, sebentar….Beli apa Neng?” seorang ibu yang bertubuh gemuk dengan memakai daster keluar dari rumahnya yang letaknya di belakang warung.
“Beli susu UHT rasa coklat ya. Satu yang kecil dan dingin.” Kataku
“Ini. Tiga ribu lima ratus rupiah.”
“Ini Bu uangnya. Makasih ya Bu.”
“Sama-sama Neng.”
Ketika aku keluar dari warung dan ingin menyeruput susu yang barusan ku beli, tak lama nada dering Ohayou terdengar.
“Ya, Halo…”
“Halo Ndra, Lo ada acara sekarang?” tanya Desty, salah satu sahabatku.
-to be continued-
Hihihihi…..^_______^
-AAZ-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar