Dream what you want to dream, go where you want to go, be what you want to be, because you have only one life and one chance to do all the things you want to do. Welcome to my world ^___^

Rabu, 10 Februari 2010

SEPENGGAL KISAH KECIL-KU

Dulu ada seorang gadis yang hidup dengan ruang lingkup yang sempit. Dia hanya hidup dengan keluarganya. Keluarganya merupakan salah satu keluarga yang terpandang dan dikenal sebagai keluarga yang ramah dan banyak membantu orang. Tapi ada satu anggota keluarga tersebut yang tak bisa mengungkapkan isi hati dan pikirannya. Dia adalah Ami, anak pertama dari keluarga Zuddin. Sejak kecil dia memang anak yang menerima apa adanya yang telah dikasih padanya makadari itu Ami tumbuh menjadi seorang anak perempuan yang menerima apapun keadaannya, Ami tak pernah meminta lebih. Oleh karena dari kecil sudah dibiasakan seperti itu, Ami tumbuh menjadi anak yang pendiam. Dia punya teman. Tapi tak sebanyak anak-anak yang lain. Menurut Ami yang pada saat itu, teman adalah orang yang membantu ami, mengajak bermain ami, berbagi pikiran dengan ami, entah mulai kapan arti sebuah teman itu berubah. Ami menjadi anak yang sulit terbuka dengan orang baru kenal sekalipun itu teman barunya. Mungkin penyebab kejadian itu karena sifatnya yang pendiam dan jika diajak bermain dengan teman-temannya selalu menjadi pendengar dan hanya mengikuti topic yang dibicarakan. Dari situlah diri ami merasa kecil dan tidak ada arti apa-apa dibandingkan teman-temannya. Sewaktu SMP dulu ami merasa kedua orangtuanya lebih menyayangi adiknya ‘Nara’ dan ‘Fina’. Setiap lebaran ami hanya mendapatkan 2-3 baju sedangkan adik-adiknya 4-5 baju. Waktu ulang tahun pun adik-adiknya selalu diberikan kado yang lebih banyak dan mahal tentunya dari orangtuanya. Karena ami tahu keadaan papa dan mamanya saat itu sedang kesulitan keuangan akhirnya ami bilang “Gak usah ma, pa, mama sama papa inget dan bikin kue aja ami dah bersyukur banget.” Pada saat ulang tahunnya.
Hari-hari ami adalah hitam dan putih, sendiri, sepi, hanya bisa melihat dan melihat. Suatu saat ada salah satu teman ami yang minta tolong untuk ditemanin ke tempat penyewaan komik “Pustaka”. Selagi ami menunggu temannya mengembalikan komik pinjamannya, ami berjalan melihat-lihat. Ami tahu komik hanya menghambur-hamburkan uang dan tak ada manfaatnya. Setelah temannya sudah selesai, ami dan temannya pun pulang. Ami bertanya kepada temannya,
“Uci,untuk jadi anggota rental komik Pustaka haganya berapa?”
“Harganya 5.000 rupiah.”
“Trus Uci tiap mau pinjam bayar lagi atau ga?”
“Bayar lagi. Tapi satu bukunya Cuma 500 rupiah. Emang kenapa Mi?” tanya Uci
“Ga. Ami Cuma tanya aja.” Jawab Ami.
Sesampainya Ami dirumah, ami berfikir bagaimana caranya ami untuk menyukai buku. Karena selama ini ami tidak suka maembaca buku, ami suka mendengarkan dan mencatat apa yang guru katakan. Jawaban ami jatuh pada rental komik tadi “Apa aku coba dulu ya, baca bacaan ringan seperti komik? Ntar kalau aku dah bisa siapa tahu aku bisa mulai suka baca buku pelajaran.” pikir ami.
Keesokan harinya sepulang sekolah ami mendaftar sebagai anggota, dia pun meminjam beberapa komik dulu yang menurutnya bagus. Sampai dirumah ami mencoba membaca komik yang dipinjamnya tadi. Ami terlarut dalam isi bacaan tersebut dan lama-kelamaan ami mulai suka baca komik, dia pun mempunyai rutinitas mengkhayal kelanjutan komik yang baru dibacanya dengan menganggap dirinyalah peran utama dalam komik tersebut.
Hari demi hari membuat ami tidak kesepian lagi karena ami sekarang mempunyai sahabat. Walaupun sahabatnya itu tidak nampak tapi bagi diri ami itu sudah lebih dari cukup. Ami punya sahabat yang tiap saat selalu berbicara apa saja dengan ami, ami juga bisa lepas. Ami pun tidak takut kalau suatu saat ami akan menyakiti dirinya karena ami akan langsung minta maaf dan pastinya sahabat ami ini tidak akan meninggalakan ami seperti teman-teman ami yang lain. Tiap malam ami ke loteng rumah untuk berbicara dengan sahabatnya sambil melihat pemandangan malam hari. Tiap malam juga hari-hari ami semakin berwarna.
Siang hari pun ami tidak kesepian lagi karena sahabat ami itu selalu ada untuk ami. Dalam hati, dalam pikiran ami, dalam keberanian ami. Dia akan selalu menemani ami.
Hari-hari berlanjut sampai ami ke bangku SMA. Ami sudah sedikit bisa untuk memulai pertemanan dengan teman baru tapi ami masih menjaga dirinya untuk tidak terlalu membuka diri. Ami pun ikut berbagai kegiatan ekstrakulikuler yang ada di sekolahnya dari mulai KIR, bahasa jepang, Rohis, Jujitsu, sampai Dance tapi di ekskul dance ami cuma bertahan sehari karena ami tidak pandai menari. Ami paling suka dengan melihat ekspresi orang lain, ia suka memotret, ia suka menulis cerita, ia suka berkhayal, ia suka dirinya sekarang.
Kini ami semakin tahu apa yang diinginkanya, dia pun semakin mempunyai pendirian, semakin banyak mengenal orang walaupun hanya sebatas tahu nama dan tampang. Hari-hari ami di SMA sangat berwarna dan terarah dalam mengembangkan karakter ami kelak.
Kini ami sudah tidak memedulikan apa orang tuanya lebih sayang pada adiknya atau tidak karena di SMA ami mempelajari agama dengan hati dia pun mendapat teman-teman yang selau berfikiran optimis dan saling mendukung satu sama lain. Ami juga mendapatkan sahabat yang bukan sahabat khayal tapi benar-benar manusia, dia adalah ‘Angga, Yuki dan Desky’. Merekalah yang menerima ami apa adanya dengan sifat baik buruknya. Namun sejak ami mempunyai kehidupan nyatanya, sahabat khayal ami pun lama-kelamaan menghilang. Ami mencari-cari tapi tak kunjung bertemu. Ami juga tidak merasakan ‘aura’ sahabatnya lagi. Berat memang melepaskan sahabat yang mendukung kita selama ini apalagi ketika kepergiannya ami tak mengucapkan selamat tinggal. Jujur ami sangat berterima kasih sekali kepada Allah karena Allah-lah yang memberi jalan kepada ami untuk melewati rasa pesimis dan pendiam ami melalui perantara sahabat-sahabat khayal ami.
“Ya Allah…hamba memang tak sempurna bahkan hamba adalah hamba-Mu yang buruk. Hamba tak pantas tergolong mereka yang masuk surga tapi hamba juga tak kuat dipanggang api neraka. Selama ini hamba hanya melihat sesuatu dalam sisi negatifnya padahal Engkau selalu memberi tahu kepada hamba untuk selalu berusaha,optimis dan jangan berburuk sangka. Engkau membimbing hamba yang tak tahu arah dan tak punya teman ini untuk mencoba melangkah dengan berani dan percaya diri. Ilmu hamba masihlah sedikit dan hamba juga masih butuh pembelajaran. Allahmdulillah ya Allah Engkau memberikan kepada hamba sahabat yang baik, sahabat yang selalu mendukung hamba yang penuh dosa ini. Hamba mohon kepada-Mu ya Allah ampunilah dosa kedua orangtua hamba, bukakan lah mata hati hamba untuk membedakan mana jalan-Mu dan mana yang bukan begitu juga dengan orang-orang yang hamba sayangi lainnya. Terutama keluaga hamba dan sahabat hamba. Bimbinglah hamba untuk selalu dilindungi dari bisikan syetan-syetan yang terkutuk, orang-orang kafir dan api neraka ya Allah. Berikanlah keluarga dan sahabat hamba perlindungan, kesehatan dan keselamatan selalu dimana pun mereka berada. Hamba sangat bersyukur sekali. Semoga Engkau mendengar doa hamba. Amin.” Ucap ami dengan khusuk.


27 November 2008
20.55 pm
AAZ

Tidak ada komentar:

Posting Komentar